Jumat, 20 Maret 2015

Dekat di Mata Jauh di Kaki (Cerita Menggapai Puncak Anjani, Rinjani 3726m)

Tulisan ini disadur dengan berbagai perubahan dari catatan perjalanan ke Gunung Rinjani oleh salah satu Soulmate saya, Ade Sri Rahayu.
Gunung Rinjani, dengan titik tertingginya Puncak Anjani di 3726 mdpl, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Walaupun sudah hampir 2 tahun yang lalu, ceritanya ga pernah basi! :-)
Enjoy!

Rinjani dari Pesawat yang bermanufer sebelum mendarat di LOP (photo by mochi)



Berangkat dari rasa penasaran karena belum pernah sekalipun ke Nusa Tenggara, kenapa ga sekalian aja ke titik tertingginya, puncak Gunung Rinjani? Rencana pendakian ini sudah ditargetkan sejak hampir setahun, beberapa kali nanya sana-sini tentang Rinjani, ngajak teman sana-sini buat ikutan, akhirnya sejak awal tahun disusunlah tim pendakian. Karom pendakian kali ini adalah wewen, selama pendakian biasa dipanggil wentika (NR. 1147 KAPA FTUI – Divisi Gunung Hutan), di tim boleh jadi dia yang paling muda, tapi pengalamannya udah banyak naik-turun gunung sekitar Jawa.
Setelah nyari tanggal yang oke, diputuskan tanggal 4-12 Mei 2013 – karena 9 Mei tanggal merah, jadi buruh-buruh ibu kota seperti kami (kecuali wewen) bisa lah ambil cuti 4 hari. :-D
Selama rentang waktu persiapan, banyak orang asli dan orang jadi2an yang datang silih berganti untuk ikut pendakian ini, tapi pada akhirnya 10 orang yang fix bisa ikut. Kosar perjalanan kali ini adalah Kak Garda yang mundur terhormat karena sakit.

Siapa aja 10 orang tersebut?
Ada Wentika a.k.a Wewen (metal'09), Ade (tekim'08), kak Yenti (TL'06), kak Adi Hersuni (metal'05), kak Jaja (metal'05), kak Arda (metal05), kak Mochi (metal'06), kak Bintang (Sastra Inggris '06), dan kak Andi (TI UGM '07). Dan tim kami dibantu oleh seorang porter yang super keren! (Ini pertama kalinya pendakian menggunakan jasa porter, dan alhamdulillah ketika itu kami dapat porter dengan tarif murah sedikit hampir di bawah rata-rata).
Yeah, mayoritas adalah yang sering nongkrong di kantin teknik pada jamannya.


4 Mei 2013

Keberangkatan tim terbagi menjadi beberapa kloter. Saya, wewen, kak yenti, dan kak jaja adalah kloter pertama yang berangkat via KA Kertajaya menuju Surabaya Pasar Turi, 14.10 – 04.41 WIB. Kemudian dilanjutkan jalan-jalan di Surabaya dan sekitarnya (ITS, Sura-Madu, dan berniat makan bebek yang akhirnya ga jadi kemudian makan di foodcourt suatu mall).

meninggalkan jejak di ITS

Selanjutnya ada kloter kedua, yaitu tim dari Balikpapan yang terbang langsung ke Lombok. Mereka mendapat tugas mulia untuk belanja kebutuhan logistik selama pendakian.

Ada juga kloter individu, yaitu Ade yang berangkat sekitar pukul 11 malam WITA dari pelosok Kalsel sampai ke Banjarmasin pukul 2 dini hari terus nginap deh di depan bandara yang kemudian lanjut terbang ke Surabaya dan ketemu kloter pertama.

Nah terakhir, ini nih kloter paling buntut alias sampe terakhir karena berangkat keesokan harinya (5 Mei 2013) langsung terbang ke Lombok dari Jakarta dan Yogyakarta.


5 Mei 2013

Rombongan "Mamah Dedeh" (karena isinya akhwat kece semua plus al-mukarrom Bang Jaja), yaitu kloter pertama ditambah Ade melanjutkan terbang dari Surabaya menuju Praya (LOP; Lombok) dengan flight pukul 14.10 WIB.



Semua anggota tim berkumpul di bandara Lombok sekitar pukul 19.00 WITA dan siap untuk memulai perjalanan ke Sembalun. Kami pilih rute naik via Sembalun – turun via Senaru (belakangan kami pikir ini keputusan yang tepat).

peta TNGR

6 Mei 2013

Dari pos bawah alias basecamp Sembalun, kami lapor sekitar pukul 7 pagi, biaya Rp 10.000/orang. Kemudian lanjut naik pick-up ke "pintu gerbang" pendakian, jalur yang dilalui luar biasa memanjakan mata. Ini baru awal dan masih di atas pick up udah luar biasa *_* Kami mulai pendakian sekitar pukul 9 pagi.

pas daftar kita dapet entry ticket yang bisa digantung di carrier atau tas selempang, ini juga sebagai penanda "that's is mine!"

di atas pick up

Sampai di pos-1 butuh waktu 2,5 jam. Medannya perbukitan, savana, indah dan panas! Di pos-1 tidak ada sumber air. Istirahat sebentar, lanjut jalan lagi sampai waktu dzuhur di pos-2. Masak dan makan siang di situ, ada air sih, tapi sedikit dan relatif kotor (tapi tetap aja kita minum! Haha). Di pos-2 banyak monyet berkeliaran, hati2 barang bawaan, terutama makanan! Di pos-2 ini juga ketemu sama saudaranya Hachiko. Hehe...
Eh tapi kalo turis yang bawa porter malah ngasih buah-buahannya ke monyet -_- dan ini bikin mupeng. Hehehe.
Mulai di pos 2 ini nih, jadi kepengen macam-macam, kebayang ayam taliwang, teh botol 1 liter, es kelapa muda, nanas, semangka, ayam goreng, dan semangkuk bakso... what a life!


savana, panas!
Rinjani di kejauhan....
@pos-1 ketemu bule darimana-mana....
si 'bruno' asik makan semangka -_-

Selesai makan rendang buatan kak Othe & kak Garda (pasutri ini batal ikut karena sakit, tapi yang penting KTP-nya sampe :D tunggu sampai di akhir cerita ^_^), kami lanjut jalan ke pos 3 (1.500 mdpl), rencana nge-camp di sana. Pos 2 ke pos 3 ditempuh sekitar 3 jam dengan medan (masih) savana. Kak Mochi (plus porter) yang sampai duluan langsung bangun tenda dan masak, Alhamdulillah... Ade dan kak Yenti dapat tugas nyuci nesting karena tadi di pos 2 airnya kecil. Nah, di pos-3 ini ada sumber air, hati-hati ketika turun kalau bisa sebelum gelap menyapa. View di pos-3 ini juga ga kalah dahsyat! Apalagi pas sunrise dan sunset.
Setelah makan malam bersama di bawah samudera rasi bintang, acaranya bebas, ada yang tidur, ada juga yang ikutan kontes meracik minuman hangat, ga tau tuh siapa yang menang.

pas turun ke sumber air, ada semacam wall climbing, pose dikit.

7 Mei 2013

Hari ini target kami ke pos Plawangan (Lawang/Pintu [gerbang]) Sembalun.
Sekitar pukul 09.00 pagi WITA, kami selesai berkemas dan siap melanjutkan pendakian!
Jalur dari pos 3 ke pos Plawangan Sembalun medannya juga perbukitan, tapi elevasi dan suhunya meningkat. Kami menyebutnya bukit PHP. Konon katanya di jalur ini kita melewati 7 bukit PHP (sebagian orang menyebut bukit penyesalan). Sepanjang perjalanan nanya orang yang lewat "berapa lama lagi?", pertama kali dijawab 1 bukit lagi: SEMANGAT! Lalu beberapa jam kemudian kami tanya sama orang yang lewat: 5 bukit lagi, mesti tetap semangat! Terakhir, udah sore, ketemu orang lain lagi dia bilang: 2 bukit lagi, hwaa!!! Dan akhirnya setelah melewati sekian bukit (ga kehitung beneran ada 7 atau malah lebih(?)), sampai juga di sebuah pos dan ada 1 tenda di situ. Lega banget rasanya. Eh pas kami siap2 bangun tenda, orang yang lagi nge-camp bilang kalo itu bukan Plawangan, masih harus ngelewatin 1 bukit kecil lagi. -_-
Oke, kali ini mulai ga percaya dengan info dari orang lain, tapi waktu itu kabut, ga keliatan tuh bukitnya setinggi apa, jadi mau ga mau lanjut jalan lagi ke pos plawangan yang lebih dekat ke sumber air biar bisa cepat-cepat bangun tenda karena memang sudah mulai senja. Sejauh ini, pos Plawangan Sembalun (2.700 mdpl) adalah tempat paling dingin dari pos-pos sebelumnya. Sisi kanan tempat kami nge-camp kalo lagi cerah kelihatan danau segara anak, sisi kiri menjulang punjak Anjani, tapi kadang kabut tipis menutupi keindahannya.

suasana Plawangan Sembalun : kiri (tak nampak) puncak Anjani, kanan Danau Segara Anak dan Gunung Baru
siluet sunset view di Plawangan Sembalun
sunset di balik gunung yang saya lupa namanya walaupun sudah dijelaskan berkali-kali oleh Pak Porter (yang saya juga lupa nama Bapaknya :D)

8 Mei 2013

Target hari ini: summit attack!
Kami bangun tengah malam, dan mulai mendaki pukul 01.30 WITA.
6 jam naik, 3 jam turun (referensi: naik 3 jam, turun 1 jam).
Pas naik hawanya dingin plus ngantuk pastinya! Pas turun? Panas berdebu plus ngantuk berat! haha... Medannya terjal kanan-kiri jurang, pasir berbatu, tapi ukuran pasirnya lebih besar daripada pasir di Bromo, bisa dibilang semacam kerikil tapi agak halus. *nahloh bingung*
Mirip di Semeru, naik 2 langkah turun 1 langkah, tracking kali ini cukup menguji kesabaran. Matahari terbit saat kami masih di lereng puncak. 3.726 mdpl baru berhasil dijajaki sekitar pukul 07.30 WITA. Dari puncak terlihat Gunung Baru dan Danau Segara Anak di kanan, dan dari jauh terlihat 3 Gili yang terkenal di Lombok, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Awalnya kami tracking ke puncak dalam 1 barisan, tapi di tengah jalan terpecah. Lini terakhir ada kak Adi yang setia menemani kak Jaja yang kakinya sempat cedera tapi pantang bagi mereka buat menyerah. Kami sempat mengira mereka kembali ke tenda, tapi ketika perjalanan turun kami berpapasan di tengah lereng, dan kami terus menyemangati hingga akhirnya mereka berdua ke puncak (dan kami menunggu di tenda duluan) :-)

Kata porter yang kami temui di puncak, penghasilan jadi porter tuh lumayan, bisa sampai 15juta/bulan! WOW! Tarif untuk turis domestik Rp 150,000/hari (waktu itu tarif yang kami dapatkan Rp 125,000/hari), mancanegara up to Rp 3 juta dalam sekali pendakian! Hmm, tapi jual tenaga. Bahkan ada juga porter yang memulai kariernya sejak SMP, weekday sekolah dan pas weekend mendaki. Terkadang hidup ga ada pilihan, ga kerja berarti ga makan.

Rencana turun ke segara anak siang ini diundur karena kami sepakat mau tidur siang aja. Haha..
Oia, alhamdulillah kak Adi dan kak Jaja kembali ke tenda sekitar pukul 14.00 WITA, waktu limit kami menunggu dan berencana meminta bantuan ranger :D


9 Mei 2013

Hari ini ke Segara Anak, nge-camp untuk semalam.
Plawangan Sembalun – Segara Anak tracknya naik-turun bukit dengan waktu tempuh sekitar 6 jam (standar porter 15 menit). Mancing, ga dapet. Tapi di kailnya 'dadakan' yang iseng saya coba buat mancing nyangkut 1 ikan kecil yang akhirnya dilepas lagi, kasian. :-)
Soal ikan bakar, ada juga yang jual sih, harganya Rp 15.000 – 50.000 per ekor. Oya kami nyampe sini sore, yang laki2 langsung ke hotspring, yang perempuan masak (ide drmana ya!? hhe). Niat awalnya kami bakal gantian ke hotspring tapi ga jadi karena katanya keburu gelap dan track ke sana not recommended (*curiga; sampai sekarang masih jadi bahasan sensitif). Malamnya makan nasi+kornet bolognaise racikan chef Wentika. Selesai makan akhirnya kak Bintang berhasil juga nyalain api unggun di depan tenda, terus sambil masak nasi buat besok pagi, Wewen, Ade, dan Kak Bintang makan sosis bakar sambil dengerin cerita dia soal asal-usul nama tim kami: Papa T-Bob – Rinjani. Jundi-jundi yang lain tidur.

bukti biar ga dibilang hoax :-P 
menikmati senja di Segara Anak, danau magis di kawasan Gunung Rinjani
sebagian dari Papa-T-Bob
ini nih ikan yang dijual sampe Rp 50,000 (konon katanya alm. Presiden Soeharto menebar benih ikan ini di Danau Segara Anak)

10 Mei 2013
It's a round trip. Getting to the summit is optional, getting down is mandatory!
-- Ed Viesturs 
Target: pos bawah Senaru, tracking dari pukul 08.30 sampai 00.00 WITA keesokan harinya sampai di Basecamp Senaru, sempat istirahat sejenak di Pintu Gerbang Senaru (referensi: turun via Senaru 8 jam). Medannya kami menyusuri tebing di pinggiran Danau Segara Anak, terus melewati 2 bukit, dan setelah itu sampai lah di bagian terseru buat yang suka manjat ini tracknya lumayan banget buat latihan rock climbing. Sampai di Plawangan Senaru break makan nanas+sesuap nasi dengan lauk sosis goreng. Sepotong nanas ga pernah selezat ini. Jalur selanjutnya ke pos 3 turun bukit berbatu, tanah, dan sabana, campuraduklah rasanya. Di pos 3 masak, ngopi2, makan siang, refill air. Sumber air di Pos 3 kering ga ada yang mengalir, jadi kami cuma ambil dari ceruk bawah sungai. Lanjut Pos 3 ke pos bawah medannya hutan tropis, track favoritnya si wentika.

Selelah-lelahnya perjalanan paling terasa di hari ini, saat carrier serasa bertambah berat, saat pegelnya kaki terakumulasi di hari ini, dan bu karom terus melesat laju ke pos bawah Senaru biar besok kami bisa santai seharian di Gili.


11 Mei 2013

Perjalanan kali ini ditutup dengan berlayar ke Kepulauan Lombok Utara. Kami snorkel di Gili Meno, makan sore menjelang malam di Gili Trawangan, dan menginap di Gili Air. Gili itu seperti Bali, banyak turis yang berkeliaran, ada yang sekedar jalan2, diving, surfing, liburan keluarga, bahkan banyak juga yang buka usaha & punya tanah di sini. Eh tapi pemberdayaan masyarakat lokal masih minim, mungkin karena unskilled kali ya, dan ntah kenapa masih ga rela aja dengar cerita sekumpulan ibu yang jadi kuli panggul bahan bangunan yang bertahan hidup dengan upah 20,000 per hari … cerita dari mereka yang teralienasi.


12 Mei 2013

Mampir ke pesisir Senggigi.

Ade+madam sefni+ka adi: flight 14.40 ke Jakarta

wewen+ka jaja+riza+ka arda: flight sore ke Surabaya

ka mochi+ka bintang: keliling Lombok bagian Selatan

ka andi: kemarin udah pulang duluan



13 Mei 2013

Ade: back to work

Wewen+ka jaja: keliling Surabaya

Ka mochi+ka bintang: lanjut keliling Bali

Riza: lying on my bed all day long :D #ketauan #pemalas haha

The others: can’t figure it out

***

Mereka yang berjasa: ka garda, ka ote, bang anton, porter, bang azam, bang lexi, bang tito, bang franky, bang herman & kondekturnya, para pemberi minum selama summit attack & downhill ke segara anak, guide snorkel yang berhasil menangkap penyu seukuran daypack 15 liter, dan awak kapal yang ngajak kami keliling Gili bagian utara.



Thanks for the memories!



Additional info:

KA Kertajaya Rp 43.500
Transportasi umum di Lombok hanya ada pagi-sore, kalo malam sewa atau janjian aja sama jasa travel.
Jalur penyebrangan ke Gili dengan kapal umum Rp15rb, kalo sewa kapal Rp 500rb/round trip atau Rp 250rb untuk 1 kali rute pelayaran.
Penginapan di Gili Rp150rb/malam
Tipping fee di Gili bisa sampai 100rb/orang
Jangan lupa pake sunblock+aftersun biar gak kebakar, kalo menggelap sudah pasti.
WAJIB latihan fisik rutin sebelum pendakian, minimal mulai H-1 bulan.
Kalo suka minum teh, jangan lupa bawa teh dan gula, tapi bisa aja sih minta ke tenda sebelah. hehe

*will be updated

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo tinggalkan jejak! ;-)

terima kasih telah mampir yaaa...
-riza-