Ternyata susah juga berkumpul on time, apalagi kalau sudah tau jadwal kereta berangkat jam berapa -_-
Sehabis shalat Dzuhur saya membopong 2 carrier menuju Metromini Cileungsi-Senen dengan bantuan Oom Edi, tetangga sekaligus ojeg langganan. 2 Carrier? Yes, Sir!
Berawal dari seorang kawan, sebut saja Harris, yang mau pinjam carrier dan akhirnya gagal ikut :'(
Seorang diri (always alone), cewek, pake rokcel, bawa 2 carrier ukuran 60 liter, what do you think?
![]() |
| Sometimes, people around you won't understand your journey! Keep up your positive though, and share your happiness ^^ (@rizazizah, 2015) |
2 April 2015
Kamis menjelang akhir pekan panjang, ditemani hujan, kepanikan pun menyapa karena seseorang yang masih jauh dari jangkauan tempat berkumpul. Dialah Harris, si pemilik (sementara) salah satu carrier yang saya bawa. Gimana nggak panik? Pukul 11.30 dengan santainya dia menelpon dan nanya jadi bisa kasih pinjaman carrier atau nggak, dan setelah dikonfirmasi posisinya masih di kosan. Dimana? Di Buah Batu, Bandung! What a great statement, saudara-saudara! Sedangkan kereta akan berangkat pukul 16.00 WIB -_-
Sekitar pukul 14.30 WIB saya menginjakkan kaki di area Stasiun Senen, tempat yang jauh dari kata sepi, terlebih seperti hari itu, menjelang long weekend. Banyak agenda yang harus dilaksanakan, tapi tak sesuai rencana. Akhirnya logistik dan P3K yang belum sempat dilengkapi serta pembatalan tiket beberapa orang harus diikhlaskan pada takdirnya, "semoga cukup dan nggak ada apa-apa deh", celoteh dalam hati.
Yup, ini adalah perjalanan ketiga @SahabatRansel setelah Papandayan dan Kerinci. Tapi merupakan perjalanan pertama setelah Rozi dan Harris (BoD @SahabatRansel) menyelesaikan Tugas Akhir-nya, sekaligus direncakan menjadi "petualangan wisuda gunung" mereka :-)
Tapi ya rencana hanyalah rencana....
Singkat cerita hari ini Harris gagal mengejar dan menebus rasa bersalahnya untuk langsung ketemuan di Solo :'(
Pun dengan Rozi belum bisa membawa toga ke puncak gunung :")
Dan, saya? Seperti biasa... "sok" kuat dengan beban di carrier. Haha
Tapi cerita kali ini would be something!
3 April 2015
00.53 WIB seharusnya jadwal rombongan pertama sampai di St.Solojebres.
Oia, team petualangan kali ini terdiri dari rombongan pertama dari Jakarta dengan kereta Matarmaja start pukul 15.15 WIB, yaitu Warsi dan Saufi, rombongan kedua dengan kereta Brantas start pukul 16.00 WIB yaitu Saya (Riza), Rozi, Ivan, dan Rivan, serta tambahan ketemu di kereta yaitu Firman dan Umay, sedangkan Bobby langsung dari Bandung ketemu di Selo, dan juga Ellina yang menyusul naik pesawat dan (akhirnya) ketemuan langsung juga di Basecamp Selo.
Saya seperti biasa susah tidur, apalagi team terpecah gini, ditambah juga tempat duduknya pisah semua :'( Sepertinya penyakit 'leadership' saya kumat, sok bertanggung jawab, dan sedikit perfeksionis, jadilah menambah beban pikiran dan nggak bisa tidur.
Cerita pun baru dimulai, kawan!
Komunikasi dengan rombongan lain sebatas via watsap dan call. Nanya rombongan pertama katanya keretanya berhenti cukup lama dan masih di daerah Purwodadi. Don't ask me about the location and how far to the destination! Saya nggak tau daerah Jawa Tengah, terlebih jalur perkeretaapian! :D
Intinya sih belum sampai dan masih lumayan jauh. Saya pikir biasalah ya telat 1-2 jam. Padahal tadi perjalanan cukup lancar sampai di Semarang, kereta berhenti cukup lama dan hanya telat sekian menit dari jadwal keberangkatan dari Stasiun Semarang Tawang.
Tapi menjadi tidak normal ketika ternyata kereta yang saya naiki juga mengalami "mogok" lebih dari 2 jam. Hingga Subuh akhirnya menyadarkan saya bahwa ini tidak normal. Beberapa penumpang yang tidak sabar akhirnya turun dari kereta dan memilih untuk melanjutkan via jalur darat lain (baca: menumpang truck karena sebelum subuh belum ada bus menuju Solo, atau alternatif lainnya). Konon kabarnya setelah ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain tempat kereta berhenti itu di Stasiun Ngrombo, sekitar setengah jam lagi menuju Solo Jebres (kalau lancar). Setelah diskusi cukup panjang, kami memutuskan juga untuk turun di Stasiun itu, namun "angin surga" seketika berhembus mengabarkan bahwa kereta siap melanjutkan perjalanan. Carrier sudah diturunkan, siap disandang! Karena posisi tempat duduk yang terpisah, kekacauan pertama terjadi!
Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan dengan kereta, keputusan sudah dibuat! Ivan dan Rivan yang sudah bergabung dengan saya di gerbong 6 sepakat. Kemudian kami memutuskan untuk ke gerbong 7 tempat Rozi yang lebih kosong karena termasuk rombongan penumpang yang tidak sabaran alias memilih untuk turun. Sampai di gerbong 7 kami tidak menemukan Rozi, langsung panik dan telpon doi ternyata sudah turun -_- Kami pikir kalau mau turun Rozi pasti melewati gerbong 6, tapi ternyata dia turun dari belakang -_- Ketika para penumpang mulai menaiki kereta semakin panik lah kami untuk bergegas turun menyusul Rozi. Sampai di luar, keputusan cepat dibuat untuk segera naik kereta kembali. #LABIL
Kereta akhirnya melanjutkan perjalanan namun dengan kecepatan tidak wajar.
Penyebab kereta "mogok" adalah adanya longsoran di jalur Semarang-Solo sehingga kereta harus berputar, kemudian mengantri sesuai barisan agar tidak terjadi kecelakaan. Sebelum meninggalkan Stasiun Ngrombo, kereta harus mengganti lokomotif, ekor jadi kepala, kepala jadi ekor. Dan ternyata ini juga yang terjadi pada kereta Matarmaja yang ditumpangi Warsi dan Saufi. Setelahnya, kereta berjalan seperti siput -_- Hingga sampai di Stasiun Gundih.
Oiya, Saufi dan Warsi sampai dengan selamat hingga Stasiun Solo Jebres sekitar pukul 04.30 WIB. Kami pikir setelah sekitar 2-3 jam kereta kami pun akan menyusul, ternyata 08.28 WIB kabar buruk menyapa kami di Stasiun Gundih. Longsoran "menjepit" kami. Kereta pun tidak dapat melanjutkan perjalanan, semua penumpang diturunkan. Karena menunggu keputusan pihak KAI yang lama dan menunggu bus pengganti juga lama, banyak penumpang yang memutuskan untuk lanjut langsung naik bus ke terminal Solo. Pun dengan saya, Rozi, Ivan, dan Rivan. Awalnya kami tidak tahu kemana harus melangkah, tapi spontan aja ikutin jalan menuju jalan raya hingga akhirnya tiba di Polsek setempat, Rozi masuk ke Polsek untuk mencari informasi dengan harapan kami bisa mendapatkan penyewaan mobil langsung menuju Selo, tak lama ada bus menuju Solo, sudah banyak yang naik. Akhirnya Rozi keluar dari Polsek tanpa babibu lagi langsung menyuruh naik bus yang sedang menaikkan para penumpang yang senasib dengan kami.
Sebelumnya, kami sudah mem-booking mobil APV Pak Bari () yang sudah melegenda di kalangan pendaki Merbabu via Selo. Mas Ari, anak Pak Bari, sudah menunggu sejak pukul 01.30 WIB di Stasiun Solo Jebres. Saufi dan Warsi sempat bertemu, namun sayangnya Mas Ari harus melakukan penjemputan rombongan lain yang juga sudah menyewa. Hmmm... Serasa nggak enak, tapi ini bukan mau kami, maaf ya pak&mas... :"(
Saufi dan Warsi kami minta untuk menunggu langsung di Terminal Tertonadi, Solo. Perjalanan menuju terminal dengan bus sekitar 1,5jam, tak terasa, capek pikiran sudah menyerang, ketiduran juga di bus :-D
Singkat cerita, di terminal Tertonadi ketemu lagi sama Firman, dikasih info katanya ada bus (entah apa namanya) cuma Rp.5.000,- dan sebentar lagi mau berangkat, AC juga, tapi kami harus mengisi perut, yasudah saya cuma minta nomor HP saja siapa tahu nanti bisa bermanfaat, kemudian kami lanjut naik bus Safari ('katanya' patas AC) yang infonya sih ada tiap 15menit dari Solo-Semarang atau sebaliknya (harganya 2x lipat :D) :") eh ternyata jodoh pasti bertemu, di perempatan RS Pandan Arang (sebelum terminal Boyolali) kami dipertemukan di satu mikrobus menuju Selo. Perempatan ini tempat turunnya para pendaki dari Bus Solo-Boyolali/Semarang yang mau ke Merapi/Merbabu via Selo.
Di mikrobus juga ketemu seorang ibu anggota mapala unsoed (kalau nggak salah) bersama seorang temannya dari Italia, cerita-cerita petualangan beliau keliling Indonesia dan dunia, seru deh pokoknya. Alhamdulillah 'ala kulli haal...
Beruntung mikrobus yang kami tumpangi juga mengangkut 5/6 orang lain yang juga mau ke Merbabu. Jadilah mikrobus tidak berhenti lama di Pasar Cepogo dan langsung mengantar kami ke persimpangan Selo setelah sebelumnya menurunkan para pendaki dari Unesa Surabaya di Polsek Selo yang hanya berjarak sekitar 50m dari tempat kami turun. Nah, bagi yang mau mendaki Gunung Merbabu via Selo, polsek Selo biasa menjadi meeting point dan pos lapor pertama para pendaki.
Disini, pertigaan Joglo Merapi, kami menyelesaikan urusan logistik. Beli air pastinya! Kemudian lanjut jalan kaki dengan jalur aspal mendaki. Sempat dapat tawaran dari Pak Pardi (087835369662) untuk menumpang mobil sayur, tapi kami memilih untuk jalan kaki, karena katanya dekat kok, tapi lumayan :D
Entah jam sudah menunjukkan pukul berapa, yang pasti lumayan lah di pos pendaftaran sudah ramai.
Setelah mendaftar, diminta menitipkan kartu identitas, pulangnya jangan lupa diambil lagi ya! Dan saya lupa sampai tulisan ini terbit KTP saya alhamdulillah masih disimpankan Bapaknya di pos pendaftaran. Semoga dikirim ke rumah :)Saya juga baru tahu (setelah mencari nomor emergensi di kertas tanda masuk), bahwa ijin hanya diberikan sampai pendakian hingga Pasar Bubrah! Semacam menuju Semeru, ijin pendakian hanya sampai Kalimati! :D
Sembari menunggu Ellina, kami packing di depan rumah seseorang yang dihuni oleh keluarga petani. Ada seorang adik yang entah ya mau tanya tapi nggak enak, sepertinya mengalami kelainan. Si Adik ini agak sedikit takut, tapi terkadang sangat riang. Kami juga menumpang sholat disini :-)
Air bersih bagi penduduk setempat sangat bermanfaat. Bahkan di rumah tersebut tidak ada kamar mandi. Toilet di sekitar sana mungkin hanya ada di seberang pos pendaftaran.
Ditemani hujan, menunggu Ellina, kehangatan kami ciptakan melalui obrolan ngalur ngidul :D
Dan, kemudian biarlah gambar yang bercerita gagahnya Merapi....
Let picture tells more ;-)
![]() |
| Slamet (sedikit terlihat di kejauhan paling kiri) - Sindoro - Sumbing - Prau |
![]() |
| Dataran antara pos2-Bubrah |
![]() |
| Cantiknya Merbabu di seberang sana... |
![]() |
| track turun - sepanjang jalan memandangi indahnya Merbabu |
![]() |
| Where I go, I always remember you! In syaa Allah... |
![]() |
| Para Sahabat @SahabatRansel |
Informasi Penting / Summary
- Jalur Selo lebih dekat ditempuh dari Solo/Boyolali, dari Jakarta carilah transportasi paling efektif ke Solo/Boyolali.
- Dari terminal Solo naik bus arah Semarang/Boyolali, rekomendasinya adalah bus Safari yang katanya sih jarang ngetem dan pastinya ber-AC. Ada setiap 15menit. Tarif Rp.10.000,- turun di Perempatan RS Pandan Arang (kernet/supir bus sudah hafal para pendaki pasti turun disini), perjalanan sekitar 45menit.
- Kemudian dilanjutkan naik mikrobus menuju pertigaan Joglo Merapi atau Polsek Selo bagi yang mau ke Merbabu. Kalau sepi, biasanya mikrobus cuma mau nganter sampe Pasar Cepogo karena jalan ke Selo rusak dan ada jembatan rusak akibat lahar dingin. Dicarter aja, kasih ongkos Rp.15.000/orang udah umum kok. Waktu tempuh sekitar 1 jam.
- Sejak tahun 2014 sepertinya tarif simaksi naik semua ya, dalam perjalanan kali ini simaksi dikenai Rp.17.500/orang.
- Waktu tempuh pendakian :
- Pertigaan Joglo Merapi - pos Pendaftaran : 1 jam
- Pos Pendaftaran - New Selo : 45 menit
- New Selo - Gerbang : 45 menit
- Gerbang - Pos 1 : 1 jam
- Pos 1 - Pos 2 : 1 jam 30 menit
- Pos 2 - Pasar Bubrah : 45 menit
- Pasar Bubrah - Puncak : 1 jam 30 menit
Take nothing but pictures,
Leave nothing but footprints,
Kill nothing but time.
It's never about the destination,
it's all about the journey!
@rizazizah







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo tinggalkan jejak! ;-)
terima kasih telah mampir yaaa...
-riza-